Pencarian

Shopping cart

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Satu Dekade Digelar, IPSMF Telkom University Hadirkan Tema Alam Sebagai Media Refleksi

✅ Link berhasil disalin!

Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial Universitas Telkom kembali menggelar ajang tahunan bergengsi, International Photography and Short Movie Festival (IPSMF) 2025 yang diisi dengan screening, talkshow, dan awarding.

 

Perhelatan ini digelar di Gedung Auditorium Damar Telkom University pada Rabu (12/11/2025), dan dihadiri oleh lebih dari 400 orang dalam dua sesi. Mengangkat tema “Nature’s Whisper: Warning Signs of a Changing World,” IPSMF 2025 menampilkan film-film pendek pilihan dari total 75 karya yang dikirimkan oleh para sineas dari berbagai negara.

 

Acara dibuka dengan penampilan tarian khas Indonesia Timur dari Unit Kegiatan Mahasiswa IMMAPA secara meriah. 

 

 

Dalam sesi sambutan, Ketua Pelaksana IPSMF 2025, Putri Nabilah Madiaferry, menyampaikan harapan dilangsungkannya acara ini. “Dalam pelaksanaan ke-10 ini, IPSMF diharapkan dapat terus mewadahi semua pihak dalam berkarya dan berekspresi," ujarnya.

 

 

Harapan diperkuat oleh Koordinator Panitia, Nisa Nurmauliddiana, S.I.kom., M.I.Kom., yang menyoroti peran IPSMF sebagai tempat bertumbuh bagi semua pihak.

 

"Selama satu dekade menjadi tempat bertumbuh, IPSMF di tahun ini mengeksplorasi sisi lain alam. Kami menyoroti bahwa alam yang tak hanya menunjukkan keindahan namun juga memberi tanda. Harapannya dapat memberi inspirasi dan dampak nyata bagi lingkungan sekitar," jelasnya.

 

Dr. Iis Kurnia Nurhayati, S.S., M.Hum., Dekan Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial Telkom University, turut mengapresiasi dan menegaskan bahwa IPSMF hadir untuk mendorong mahasiswa memiliki jiwa kreatif dan daya saing tinggi.

 

“Saya harap acara ini memotivasi mahasiswa untuk bergabung di IPSMF ke-11, karena berpartisipasi saja sudah merupakan kemenangan. Di momen ini, mari kita apresiasi setiap karya yang ditampilkan hari ini dengan sepenuh hati," ungkapnya.

 

 

Acara dilanjutkan dengan pemutaran tiga film pendek kompetisi yang terpilih. Ketiga film ini menghadirkan perspektif relasi kompleks antara manusia dan alam sesuai dengan tema besar yang diusung.

 

Acara dilanjutkan dengan pemutaran 3 karya film pendek kompetisi yang terpilih. Dibuka dengan karya sineas muda Dava Gibran menampilkan kisah haru pasca-banjir besar di Bandung Selatan dalam film animasi pendek "Bandung 2045: A Story from the South.”

 

Dilanjut dengan "Garden of Eden" karya Matjia Margetić, sebuah visual distopia tanpa warna yang menggambarkan seorang perempuan merindukan aroma bunga di tengah udara yang tak dapat dihirup. Kemudian pemutaran ditutup dengan "Gentle Hum of Spring" karya Simon Garez menyajikan potret lembut seorang penjaga lebah muda di Saskatchewan yang berjuang mempertahankan koloninya di tengah ancaman musim semi yang mencair.

 

Ketiga film ini menjadi bukti bahwa suara kekhawatiran terhadap bumi dapat direfleksikan dalam bentuk audio-visual. IPSMF 2025 mendorong para kreator film untuk berkarya yang dilandasi dengan keberanian dan kepedulian.

 

IPSMF juga menghadirkan talkshow inspiratif yang dipandu Pradipta Dirgantara, menampilkan Fotojurnalis lingkungan Mas Agung Wilis Yudha Baskoro dan praktisi industri film Indonesia Benny Kadarhariarto.

 

Melalui pemutaran film dan talkshow, IPSMF menegaskan bahwa film dan fotografi tidak hanya sebagai sarana hiburan dan informasi tetapi juga dapat dijadikan medium kreatif untuk menyuarakan isu lingkungan.

Artikel Sebelumnya
Persib Bandung Kolaborasi dengan Lokal Brand Mischief Denim
Artikel Selanjutnya
Hadapi Mantan Klub, Firman Utina Tanggapi Tekanan yang Mungkin Terjadi pada Nick dan Edo

Artikel Terkait: